Pilkada yang Menggerakkan

Pilkada yang Menggerakkan

Oleh Cahyadi Takariawan
___________

He tangi, tangi…. iku bosmu sido ndaftar Gubernur Jakarta !

Suara melalui handphone itu demikian keras di telinga Yunus, seorang kader di Palu, Sulawesi Tengah. Jam 24.00 WITA, Yunus yang sudah tidur menjadi terbangun karena telpon genggamnya berdering. Rupanya saudaranya dari Banyuwangi menelpon dengan luapan kegembiraan, karena tengah menyaksikan berita di televisi proses pendaftaran Hidayat Nurwahid ke KPUD DKI Jakarta untuk calon Gubernur, berpasangan dengan Didik J. Rachbini.

“Alhamdulillah, sampeyan ngerti seko ngendi ?” tanya Yunus.

“Mulo ndang tangiyo, aku yo isih nonton tivi, lagi ono beritane bosmu iku…”, jawab saudaranya di Banyuwangi. Yang disebut dengan “bosmu” adalah Hidayat Nurwahid.

Keluarga Yunus yang berada di Banyuwangi merasa demikian bersyukur, karena tokoh yang sangat mereka kagumi, Hidayat Nurwahid, mendaftar menjadi calon Gubernur DKI. Sedemikian gembiranya, mereka tidak sabar berbagi, langsung menelpon Yunus yang telah istirahat di Palu. Yunus mereka kenal sebagai aktivis PKS, sementara keluarga yang di Banyuwangi merupakan warga masyarakat biasa, bukan kader.

Semua Bersyukur

Keluarga Yunus hanyalah salah satu kisah dari sangat banyak kisah serupa. Saya mendengar banyak kader di wilayah DKI melakukan sujud syukur setelah pasangan HNW – Didik resmi mendaftar di KPUD. Mereka sangat bersyukur karena tokoh yang kharismatik ini bisa maju sebagai calon Gubernur DKI. “Kami semua sangat terharu, dan bersyukur beliau berhasil menjadi calon Gubernur. Kami semua siap bekerja memenangkan beliau”, ungkap seorang kader senior di DKI.

Jika banyak kader di DKI melakukan sujud syukur, tentu wajar, karena perhelatannya memang terjadi di wilayah DKI. Namun ternyata yang merasakan kegembiraan bukan hanya kader DKI, bahkan kader di luar DKI yang tidak akan bisa ikut memilih saat Pilkada DKI. Juga bukan hanya kader, termasuk simpatisan dan masyarakat umum ikut merasakan kegembiraan. Contohnya adalah keluarga Yunus di Banyuwangi. Demikian jauh dari Jakarta, dan tidak akan bisa ikut memilih saat Pilkada DKI karena tidak tinggal di Jakarta, namun kegembiraannya demikian membuncah.

Yunus pun segera membangunkan isterinya, dan mereka berdua dengan antusias menyaksikan berita televisi tentang pendaftaran pasangan HNW – Didik di KPUD DKI. Mereka merasa sangat berbahagia, dan ikut merasakan semangat yang membara ingin terlibat memperjuangkan kemenangannya. Yunus tinggal di Sulawesi Tengah, namun ia tergerak untuk memberikan dukungan dalam bentuk apapun yang bisa dilakukannya.

“Saya akan mengontak teman dan kerabat saya yang tinggal di wilayah Jakarta, agar memilih pasangan HNW – Didik”, ungkap Yunus.

Demikian pula Zuhrif, kader yang tinggal di wilayah Kota Yogyakarta. “Saya sudah mengontak 22 keluarga saya yang tinggal di Jakarta, agar kelak memilih HNW – Didik dalam Pilkada”, katanya penuh semangat. Bahkan, ia menyempatkan diri hadir ke Jakarta agar bisa menyaksikan proses pendaftaran HNW – Didik ke KPUD DKI secara langsung. Jauh-jauh ia menempuh perjalanan agar tidak ketinggalan peristiwa yang monumental tersebut.

Falah, seorang kader dari Sleman DIY tidak mau ketinggalan. Dia mengirim pesan lewat grup BBM, “DPW PKS DIY harus segera membuat instruksi agar seluruh kader DIY mensukseskan Pilkada DKI, dengan jalan dukungan doa, tenaga, dan mengontak teman serta kerabat yang tinggal di wilayah Jakarta untuk memenangkan HNW”.

Luar biasa, bahkan SMS dari banyak kader di berbagai daerah, menunjukkan suasana semangat yang sangat membara. Berikut contoh kiriman SMS yang masuk ke handphone saya, dari berbagai daerah di Indonesia:

“Allahu Akbar ! Inilah saatnya memimpin Jakarta”.

“HNW memimpin Indonesia, melalui DKI Jakarta”.

“Allah beserta kita”.

“Kita bangkit bersama, menangkan HNW di DKI Jakarta”.

“Menuju RI – 1, melalui DKI – 1”.

Masih banyak contoh SMS lainnya yang sedemikian semangat menyambut pendaftaran HNW menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Semua bersyukur atas pencalonan HNW, dan ingin terlibat memenangkannya.

Pilkada yang Menggerakkan

Fenomena semangat yang menggelora sangat terasa. Semua kader ingin segera bekerja, seakan Pilkada tinggal besok pagi saja. Semua merasa tidak sabar untuk segera memenangkannya. Pilkada DKI telah menggerakkan semangat, motivasi, dan kebersamaan kader di seluruh Indonesia. Bukan hanya DKI Jakarta dan sekitarnya, namun merata sampai seluruh wilayah dan daerah.

Benar-benar Pilkada yang menggerakkan. Seakan ada sesuatu yang turun dari langit, dan menyentak perhatian kader. Kita harus segera bekerja, dan kita sudah siap untuk bergerak lebih keras dari sebelumnya. Seorang kader secara bergurau mengirim SMS kepada saya, “Berterimakasihlah kepada Foke, karena dia tidak jadi berpasangan dengan kita, sehingga kita justru bisa maju sendiri. Ini akan membuat kita solid.”

Fenomena tergerakkannya kader ini sedemikian merata. Bukan hanya di DKI Jakarta. Bahkan semua struktur wilayah menyatakan siap membuat Posko Pemenangan di Jakarta. Sebagaimana diketahui, Jakarta dihuni oleh masyarakat dari berbagai etnis dan susku bangsa. Maka semua wilayah menyatakan siap membuat Posko Pemenangan dalam rangka mengajak warga asal wilayah masing-masing untuk memilih HNW dalam Pilkada Jakarta.

Tidak perlu instruksi, tidak perlu taklimat. Semangat sudah merata. Seorang kader senior di Yogyakarta menangis, karena hanya bisa membaca berita melalui milis dan SMS tentang persiapan pemenangan Pilkada DKI Jakarta, dan ia merasa tidak bisa membantu apa-apa kecuali doa. Lihatlah, bahkan kader yang tidak tinggal di Jakarta saja merasa berdosa karena tidak bisa memberikan bantuan tenaga. Pilakada Jakarta benar-benar menggerakkan kader dan struktur semuanya.

Banyak kader yang tinggal di luar Jakarta bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan selain doa?” Masyaallah, pertanyaan yang menandakan kecintaan. Pertanyaan yang menunjukkan telah tergerakkan. “Kami tidak bisa hanya diam saja dan menonton berita. Kami harus ke sana”, ungkap seorang kader di kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dengan penuh semangat menggelora. “Kami akan menangis kalau hanya melihat berita”, katanya.

Subhanallah, walhamdulillah. Belum pernah saya menyaksikan Pilkada yang sangat heroik seperti di DKI Jakarta. Baru berita pendaftaran di KPUD saja, sudah menggerakkan semangat yang membara. Ikatan emosi yang demikian kuat tercurahkan, dan semua ingin bekerja memenangkan Pilkada Jakarta.

Seorang kader di wilayah Jawa Tengah dengan semangat menggelora mengatakan telah membuat tim kecil yang akan dikirim ke Jakarta, melakukan “operasi” ke masyarakat Jawa Tengah yang tinggal di Jakarta. “Operasi ini kami biayai sendiri. Ini bentuk kontribusi kami bagi kemenangan dakwah di DKI”, kata kader tersebut. Sayapun dibuat menangis oleh pernyataan ini.

Subhanallah walhamdulillah. Tadi sore melihat gambar HNW sedang rapat menyusun langkah kemenangan bersama tim, melalui grup BBM. Sayapun kembali menitikkan air mata. Gambar-gambar semacam itu telah memberikan banyak cerita. Gambar dan berita Pilkada Jakarta telah menggerakkan hati kita, nurani kita, semangat kita, kecintaan kita, kebersamaan kita, kesungguhan kita, perjuangan kita.

Subhanallah walhamdulillah. Semoga Allah berikan kemenangan dan kebaikan dalam perjuangan dakwah di DKI Jakarta.**

*http://cahyadi-takariawan.web.id/

By abu burhan Posted in Berita

Ketika Orang Tidak Menghargai Kita

Ada seseorang yang bertanya atau mungkin diri kita sendiri”kenapa orang tersebut tidak menghargai saya?”. beberapa hal di bawah ini mungkin bisa kita jadikan bahan pertimbangan terhadap masalah ini:

1. orang tidak menghargai kita, mungkin karena kita belum layak untuk dihargai

2. Ketika orang tidak menghargai kita, mungkin disebabkan kita tidak menghargai orang. Sebab banyak orang baru menghargai kalau sudah dihargai

3. ketika orang tidak menghargai kita, maka berilah pelajaran dengan cara menghargainya. sebab ada orang yang baru dapat menghargai orang lain ketika orang lain selalu menghargainya walaupun dia tidak pernah menghargai orang tersebut.

4. ketika orang tidak menghargai kita, mungkin orang tersebut tidak tahu tentang kebaikan kita, jabatan kita, status sosial kita. karena sebagian orang baru bisa menghargai orang kalau sudah melihat kebaikan, jabatan, status sosial kita

5. kita tidak dihargai orang, mungkin karena memang orang tersebut kurang ajar

Pengumuman

Diberitahukan kepada seluruh wisudawan/ti STT_US 2012 agar segera mencek Ijazah dan Transkip Nilainya ke Kampus paling lambat hari kamis 15 Maret 2012.

By abu burhan Posted in Info

Diproteksi: Jadwal Kuliah MI

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

By abu burhan Posted in Info

Taujih Anis Matta: Indikator Kemenangan Adalah Ketika Orang Merasa Ada Harapan Bila Bertemu Kita

  • Selasa, 21 Februari 2012
  • Ditulis oleh 

PKS Jakarta – Arahan Sekjen PKS H.M. Anis Matta di Rakornas PKS Indonesia Timur-Sulawesi, Hotel Clarion Makassar – Jumat malam 17 Februari 2012

Livetweet Ketua DPD PKS Makassar @bangirwan

1. Kita berkumpul di sini untuk meyakinkan diri kita bahwa insya Allah kita akan menang… #TaujihAM

2. Karena di sini kita bersyura, mengumpulkan hati kita & menyusun perencanaan… #TaujihAM

3. Ini yang disebut dalam al quran: faa idzaa azamta fa tawaqqal alallah! Kita sedang bertekad, ada 600 hati yang ada di sini #TaujihAM

4. Tekad itu energi bagi fikiran untuk menjadi tindakan #TaujihAM

5. Azam & Tawakkal bersanding, karena keduanya adalah tekad, 1 dari bumi dan 1 dari langit #TaujihAM

6. Kenapa Allah menggunakan kata Azam? Krna semua realitas pd awalnya berawal di alam fikiran #TaujihAM

7. Jika kemenangan itu sudah ada dalam hati dan fikiran, maka ia akan mewujud dalam kenyataan #TaujihAM

8. Di ayat lain Allah menyandingkan azam & sakinah. Sakinah itu kemantapan hati #TaujihAM

9. Jadi yang pertama ada sebelum kemenangan itu adalah kemantapan hati #TaujihAM

10. Jika ada kemantapan dalam hati kita ikhwah sekalian, maka kemenangan itu sudah dekat #TaujihAM

11. Jadi jika kita ingin mengetahui apakah kita akan menang 2014 nanti, antum bisa tahu sekarang! #TaujihAM

12. Maka peganglah dada antum, dan rasakan adakah kemantapan hati akan kemenangan itu atau tidak!… #TaujihAM

13. Sebelum badar, kaum muslimin ditidurkan oleh Allah, dan esoknya mereka dipenuhi kemantapan hati! #TaujihAM

13. Jika Allah mentakdirkan sesuatu, maka Allah menciptakan sebab-sebabnya #TaujihAM

14. Perhatikan sekitar antum, apakah terasa sebab-sebab kemenangan untuk antum? #TaujihAM

14. Hadirnya tanda sebab-sebab kemenangan, dan keyakinan akan benarnya jalan juang ini, itulah yg melahirkan kemantapan hati #TaujihAM

15. Karena antum diciptakan untuk menjadi saksi-saksi (litakuunu syuhada) bagi manusia… #TaujihAM

16. Kita yakin dengan cita-cita besar itu, karna kita akan menjadi saksi-saksi atas manusia #TaujihAM

17. Kalau hanya sekedar tujuan electoral, itu persoalan mudah, sebab ilmunya saintifik, semua orang bisa pakai… #TaujihAM

18. Tetapi jika kita melaksanakan takdir kita sebagai syahadah alannas, maka kerja-kerja kita bukan soal angka-angka #TaujihAM

19. Karena itu kerja-kerja kita haruslah menjadi sesuatu yang dapat diRASA, bukan sekedar dihitung-hitung… #TaujihAM

20. Hasil-hasil dakwah kita adalah sesuatu yang dapat dirasa, ketakutan menjadi rasa aman, kemarahan menjadi ketenangan, #TaujihAM

21. Saat ini kita ibarat mendaki gunung, ke atas masih tampak jauh, tapi ke bawah lebih jauh lagi… #TaujihAM

22. Saat ini bagi kita tak ada pilihan lain, kita harus maju mencapai puncak! #TaujihAM

23. Banyak orang bertanya-tanya, akan seperti apa masa depan PKS dengan beban ideologi yang diembannya #TaujihAM

24. Tapi sederhana menjawabnya. Cukup mengajukan pertanyaan: pernahkah Islam itu memimpin dunia? #TaujihAM

25. PERNAH!!! Dan oleh karena itu kita meyakini bhwa capaian itu pasti bisa diulangi! #TaujihAM

26. Keraguan soal itu hanya menimpa mereka yang menggunakan logika electoral semata. Bahwa judul Islam itu tidak menjual dalam politik #TaujihAM

27. Sebab mereka mengalami kegalauan narasi. Bagi kita narasi itu jelas, bahwa islam pernah menyatukan agama, pasar & politik #TaujihAM

28. Karena narasi itu pernah terwujud dalam realitas, maka sesungguhnya semua itu dapat diwujudkan kembali! #TaujihAM

29. Karena itu Allah mengingatkan, janganlah lemah dan janganlah sedih wa antumul a’lawna inkuntum mukminin! #TaujihAM

30. Dan kemantapan hati itu dapat dilihat dari sorotan mata antum yang tajam! #TaujihAM

31. Mata yang tajam itu akan menembus mata yang menatapnya dan turun ke hatinya… #TaujihAM

32. Sekarang antum rasakan, apakah yang dirasakan orang lain ketika bertemu antum… Apakah gembira atau malah sedih? #TaujihAM

33. Islam ini datang memberikan berita gembira, memberikan harapan! #TaujihAM

34. Dan tugas kita adalah menghilangkan kesedihan, rasa takut & kemarahan, itulah sakinah! #TaujihAM

35. Jika antum memiliki sakinah, maka tugas kita adalah menghadirkan sakinah bagi masyarakat kita #TaujihAM

36. Maka salah satu indikator kemenangan adalah ketika orang merasa ada sakinah/harapan ketika dekat dengan kita #TaujihAM

37. Yang orang ingin tahu adalah apa yang akan mereka rasakan ketika dekat dengan antum, atau jika PKS menang… #TaujihAM

38. Kekuatan utama untuk mendapatkan follower adalah narrative intelligence, kemampuan menjelaskan #TaujihAM

39. Oleh karena itu antum mesti memiliki kemampuan menerjemahkan narasi ini dalam banyak perspektif #TaujihAM

40. Misalnya agenda mainstreaming keluarga, perlu menggunakan kemampuan menerjemahkan yang baik agar orang yakin #TaujihAM

41. Jadi ini masalah bagaimana cara kita meyakinkan orang! #TaujihAM

42. Jadi tidak ada yang salah dengan apa yang kita yakini, tetapi cara kita meyakinkan orang yang kurang tepat! #TaujihAM

43. Milikilah perasaan, bahwa apa yang kita lakukan sejauh ini adalah proses shifty of civilization, peralihan peradaban #TaujihAM

44. Bukan hanya kerja-kerja untuk meraih kursi, itu sesuatu yang sangat kecil. Tapi rasakanlah kerja-kerja itu sebagai merakit kerja besar #TaujihAM

Break dolo, jempol dah lemezzz!!!! :D
Lanjut…. #TaujihAM

45. Saat ini ada 2 peradaban yang sedang berganti, yang 1 akan mati dan 1 lagi akan bangkit #TaujihAM

46. Baik peradaban yang akan mati maupun yang akan bangkit keduanya diawali oleh kekacauan #TaujihAM

47. Seperti bayi yang baru lahir menimbulkan tangisan, tangisan itulah kekacauan peradaban yang sedang ingin lahir #TaujihAM

48. Kekacauan yang terjadi di timur tengah sebelum jatuhnya para diktator adalah kekacauan yang mengawali lahirnya sebuah peradaban #TaujihAM

49. Peradaban barat juga sedang mengalami kekacauan, kekacauan menjelang kejatuhan peradaban mereka #TaujihAM

50. Krisis Ekonomi barat, hanyalah efek kecil dari sebuah kerusakan yang lebih besar dan dalam, yaitu “penyakit degeneratif” #TaujihAM

51. Penyakit Degeneratif, adalah hasil dari sebuah sistem yang salah sejak awalnya, yaitu membunuh kehidupan #TaujihAM

52. Mereka membatasi kehidupan & kelahiran, karena mereka meyakini bahwa sumberdaya yang tersedia lebih sedikit dari jumlah manusia #TaujihAM

53. Inilah tuduhan mereka yang paling keji terhadap Allah! Seolah-olah Allah tidak teliti menciptakan sumberdaya & manusia tidak seimbang… #TaujihAM

54. Padahal Allah yang membagikan rezeki kepada setiap ciptaan-Nya, dan Dia pula yang memegang kunci-kuncinya #TaujihAM

55. Dulu di masa Nabi, Arab itu sudah memiliki kandungan minyak yang melimpah, tetapi tidak digunakan, karena Allah belum berikan ilmunya #TaujihAM

56. Baru sekitar 100 tahun yang lalu manusia diberi sedikit ilmu tentang minyak, & itu sudah menjadi solusi bagi banyak kebutuhan semua manusia #TaujihAM

57. Kemudian Allah memberikan sedikit ilmu tentang komunikasi, betapa banyak orang yang kaya karenanya & menjadi solusi persoalan-persoalan manusia #TaujihAM

58. Ilmu yang diberikan Allah itu masih sedikit, dan mereka sudah menuduh Allah tidak mampu menyediakan rezki yang cukup bagi ciptaan-Nya! #TaujihAM

59. Padahal mereka bahkan belum sampai pada ilmu yang ada di zaman Nabi Sulaiman, dimana kargo dapat dipindahkan realtime spt SMS #TaujihAM

60. Maha Suci Allah dari tuduhan keji mereka itu! #TaujihAM

61. Padahal Allah memiliki cara sendiri untuk membagi-bagikan rezkinya kpd seluruh kehidupan yang diciptakan-Nya #TaujihAM

62. Kesalahan mendasar barat inilah yang membuat peradaban mereka kini di ambang kehancuran #TaujihAM

63. Dimana tidak ada lagi suara tangis kehidupan baru di tengah mereka, dan yang ada hanya calon-calon mayit #TaujihAM

Livetweet Ust. @aboebakar15

1. Perlu syuro dalam setiap pengampilan keputusan, termasuk perumusan strategi dan penentuan target kemenangan #Rakornas

2. Setelah ada perencanaan dan target diperlukan energi, dan energi itu berbentuk azam atau tawakal #Rakornas

3. Untuk menang, perlu mempertemukan dua energi, yaitu tekad di bumi dan ketawakalan dari langit #Rakornas

4. Allah telah menurunkan ketenangan/kemantapan dalam hati jauh sebelum kemenangan itu sendiri terjadi #Rakornas

5. Kemenangan 2012 dapat diukur dari kemantapan hati kita sekarang, bila kita telah yakin dan tenang, maka kita akan meraihnya

6. Kemenangan itu seperti cuaca, sebab-sebabnya akan diciptakan Allah sebelumnya dalam Taqdirnya #Rakornas

7. Suasana kemenangan PKS bisa dirasakan dari langit politik Indonesia #Rakornas

8. Sumber kemantapan hati adalah atas keyakinan kebenaran jalan yang dipilih #Rakornas

9. Sumber lainnya adalah keyakinan akan kebenaran tujuan atas jalan yang kita pilih #Rakornas

10. Keyakinan kemenangan PKS jauh lebih besar dari sekedar perolehan kursi-kursi di DPR #Rakornas

11. Vote dan kemenangan adalah hal yang cukup sederhana, semua dapat dijelaskan secara scientifik #Rakornas

12. Namun hal yang harus diraih PKS adalah follower, bagaiamana kita diikuti oleh sebanyak mungkin masyarakat #Rakornas

13. Dampak kekuasaan bukan pada angka-angka, melainkan pada perasaan yang menyentuh masyarakat #Rakornas

14. Persoalan politik dan ekonomi bukanlah hitungan matematis yg diperoleh, melainkan hal yang dirasakan dalam hati kita #Rakornas

15. Ilmu pemenangan pemilu adalah mengolah emosi publik, di sinilah pemilu sangat scientifik #Rakornas

16. Persoalan kemenangan 2012 bukan persoalan bisa atau tidak, melainkan mau atau tidak #Rakornas

17. Logika elektoral yang menjustifikasi partai Islam tak mungkin menang adalah kesalahan artikular yang sangat besar #Rakornas

18. Buktinya, islam sebagai ideologi sudah pernah terbukti menaklukan dunia dan membawa kemajuan peradaban manusia #Rakornas

19. Islam terbukti pernah menyatukan persoalan politik yg sangat pragmatis dan agama yang bersifat sangat normatif #Rakornas

20. Kesesatan berpikir senantiasa memisahkan berbagai persoalan dimuka bumi, mereka gagap secara naratif #Rakornas

21. Janganlah merasa sedih, jangan merasa lemah, jangan merasa kecil, jika kamu sekalian beriman #Rakornas

22. Salah satu indikator kemenangan adalah, ketika orang merasa ada harapan bila bertemu kita #Rakornas

23. Industri, agama dan politik bisa disatukan dalam sebuah industri kehidupan, bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik #Rakornas

24. Seorang kader PKS harus bisa memiliki naratif intelligence, yaitu sebuah kemampuan menyampaikan, suatu kemampuan persuasi #Rakornas

25. Jangan berpikir bahwa bila kita sudah menang di 2012 berarti tugas kita sudah selesai, ini hanya bagian dari civics civilization #Rakornas

26. Wajah peradaban mengalami kekacauan pada saat akan lahir dan saat akan hancur #Rakornas

27. Zaman permulaan disebut zaman paling baik karena ini merupakan awal dari berbagai peradaban berikutnya #Rakornas

28. Dialog peradaban adalah langkah awal dari peralihan peradaban yang digarap PKS #Rakornas

29. Islam harus memulai peradaban dimana barat mengakhirinya, karena peradaban barat sekarang sedang mengalami penyakit degeneratif #Rakornas

30. Yakinlah jalan kita sudah benar, tujuan kita sudah benar dan tenaga kita sudah cukup, Kemenangan itu demikian dekat #Rakornas []

By abu burhan Posted in Berita

Bangsa Tidak Punya Rasa Malu

Ibarat mobil remnya sudah blong. Tak ada lagi cara menghentikan laju mobil. Sedangkan sopirnya terus menekan pedal gas. Kencang. Tidak peduli mobil menabrak apa saja dan siapa saja didepannya. Menghancurkan apa saja. Sopir terus menginjak pedal gas, sampai mobil hancur lebur berkeping, dan sopirnya mati. Baru berhenti.

Itulah kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini. Terus melaju tanpa batas. Terus berlari kencang, tanpa kendali. Melesat bagai meteor. Karena tidak ada lagi rasa “khauf” (takut). Rasa takut sudah pupus. Diganti dengan keinginan dan ambisi terhadap kenikmatan duniawi. Indonesia seperti dikatakan oleh Busyro Muqaddas, sebagai : “Bangsa hedonis”.

Keserakahan, ketakamakan, kemaksiatan, kesesatan, kedurhakaan, dan segala penyimpangan menjadi “aqidah” mereka. Tidak ada lagi aturan hidup yang menjadi pegangan. Agama (Islam) yang mereka anut, sudah mereka tinggalkan.

Padahal, sekarang di seluruh daratan Eropa, perayaan Natal dan Tahun Baru, di tengah lelehan salju Desember yang beku, kehidupan mereka sangat buram. Satu-satunya negara yang rakyatnya masih mampu berbelanja dan merayakan  Natal dan Tahun Baru, hanyalah Jerman.

Selebihnya, negara-negara di zona Eropa, rakyatnya hanya duduk di depan tungku pemanas di rumahnya. Sambil merenungi kehidupan mereka yang bangkrut. Mereka yang menjadikan “Tuhannya” kenikmatan dunia sudah berakhir.

Negara yang paling tua lahirnya imperialisme dan kapitalisme yaitu Portugal dan Spanyol, serta tempat lahirnya kapitalisme (demokrasi)  paling tua, Yunani, sudah jatuh tersungkur, masuk ke jurang kemiskinan,  tidak akan bangkit selamanya. Negara-negara sekuler yang menuhankan kenikmatan materi dan duniawi itu, sekarang hanya dapat merenungi nasibnya. Separuh rakyatnya menganggur, dan kehilangan pekerjaan, akibat krisis utang dan ekonomi.  Bukan hanya itu. Uni Eropa terancam bubar.

Mata uang uero sudah tidak lagi layak menjadi alat tukar. Negara-negara zone euro ingin kembali ke mata uang mereka masing-masing. Ini semua menjadi indikator tempat lahirnya bagi para pemuja syahwat dan kenikmatan sudah tamat. Kanselir Jerman, Angela Merkel, sudah tidak mungkin mau melakukan “bail out” bagi negara-negara Eropa yang sudah miskin. Angela Merkel yang berjanji mau menggelontorkan dananya sebesar 400 miliar euro, akhirnya meninggalkan janjinya itu, karena Merkel harus berhadapan dengan rakyatnya.

Bandingkan. Indonesia yang “income” perkapita rakyatnya masih dibawah $ 1000 dollar,  saat merayakan Natal dan Tahun Baru, melebihi negara-negara yang maju, yang “income” perkapitanya sudah lebih $ 10.000 dolar.

Pesta kembang api membahana diangkasa menyambut tahun baru Masehi. Di kampung yang miskin di pinggiran Jakarta, rakyat yang membakar petasan tak henti-henti. Memekakkan telinga. Hiburan yang disuguhkan menyambut tahun baru, sangat luar biasa, dari pusat ibukota sampai kampung-kampung di Padeglang, yang dekat dengan gunungpun menyambut tahun baru. Dari pesta yang diiringi orkes dangdut dengan penyanyi mesum, sampai hotel-hotel yang mewah, tempat peristirahatan semuanya menyambut tahun baru Masehi.

Tentu yang mengherankan dari mana uang yang mereka dapatkan itu? Begitu banyak orang yang dengan “enteng” membuang uang mereka, hanya sekadar merayakan Natal dan Tahun Baru. Apakah mereka yang merayakan Tahun Baru, itu adalah para pekerja keras yang sukses, dan orang-orang yang benar-benar berduit? Inilah pertanyaan kunci. Untuk melihat kehidupan bangsa ini secara anatomis?

Sebenarnya, ekonomi Indonesia tumbuh diatas 6,5 persen, hanya faktor konsumsi di dalam negeri. Bukan karena meningkatnya eksport dan perdagangan luar negeri. Artinya, setiap bulan puluhan ribu mobil yang terjual, setiap bulan ratusan ribu motor yang terjual, setiap bulan ratusan rumah estate dan apartemen yang terjual, semuanya dengan kredit.

Hotel-hotel terus tumbuh pesat dengan tingkat hunian yang tinggi, resort-resort tempat istirahat orang kaya terus dibangun, ritel dari manca negara terus merambah sampai ke kampung-kampung, yang menghancurkan pedagang kecil, dan pembelinya terus meningkat.

Barang kebutuhan sekunder terus membanjiri pasar, dan tidak sepi pembeli. Karena itu, kemudian pihak asing, meningkatkan status “grade investment” bagi Indonesia. Artinya, negara yang tetap aman menaruh kapital dan modal. Indonesia dianggap aman untuk membayar utang.

Tetapi, jangan lupa bahwa negeri ini, negeri yang bangsanya sudah kehilangan rasa malu. Negeri yang yang pemimpin dan rakyatnya urat malunya putus.

Lihat, negeri ini yang menganut sistem ideologi Pancasila, korupsi sudah menjadi “habit” para penyelenggara negara dan pejabat publik. Korupsi seperti sudah seperti  penyakit yang tidak mungkin lagi dapat diberantas. Ibaratnya seperti penyakit kanker stadium empat, yang menyerang otak manusia. Kemaksiatan dan dosa sudah menjadi “hobi” di negeri ini.

Bandingkan dengan Cina yang atheis, koruptor dihukum mati. Sedangkan di Indonesia para koruptor mendapatkan remisi (potongan hukuman). Vonis hukumannyapun  ringan, dan masih diberi remisi. Karena itu, Indonesia menjadi surga para koruptor. Di Malaysia “ruswah” (sogok/suap),  tidak begitu nampak. Di Indonesia. Segala urusan harus menggunakan “ruswah”. Mengurus orang matipun di Indonesia masih harus menggunakan “ruswah”.

Mengapa seluruh asset bangsa ini sekarang dikuasai Cina? Karena pejabat Indonesia sudah dapat ditakar oleh orang Cina, berapa “ruswah” yang harus dibayar kepada mereka untuk izin dan  proyek? Di Malaysia sekecil apapun membawa barang “haram” narkotik, digantug, tanpa basa-basi. Terhadap siapapun. Di Indonesia yang mempunyai pabrik narkoba yang memproduksi berton-ton narkotik, bisa bebas dan menjalankan lagi bisnisnya. Barang buktinya bisa dijual.

Bandingkan, di Indonesia, banyak anak tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka ke sekolah lebih tinggi, karena mereka tidak dapat membayar uang sekolah/kuliah, karena orang tuanya miskin.

Di Cina, sejak zamannya Deng Xiao Ping, setiap tahunnya 100.000 mahasiswa di kirim sekolah ke Eropa dan Amerika. Malaysia setiap tahunnya 50.000 mahasiswa di kirim ke Eropa, Amerika, Jepang, dan Timur Tengah.

Sehingga, sekarang Cina dan Malaysia menjadi negara maju, dan sudah banyak orang yang bergelar doktor. Sedangkan di Indonesia, uang negara (RABN), banyak habis digunakan untuk plesiran pejabat dan anggota DPR, yang melakukan “Studi banding”, yang tidak jelas hasilnya.

Perhatikan, negara agraris yang luas wilayahnya, melebihi daratan Eropa, seluruh kebutuhan pangan dan buah-buahan harus diimport. Mengapa? Karena import itu, dapat menambahkan tebalnya kantong bagi para pejabat, dan kroni-kroninya. Padahal, Kementerian Pertanian itu, dua periode dipimpin seorang menteri dari partai dakwah, yang konon mempunyai kepedulian kepada rakyat. Petani semakin jembel dan marginal. Menyedihkan.

Di kementerian kehakiman hukum dan hak-hak asasi menusia, pelanggaran terhadap HAM, terus berlangsung. Orang yang  dibunuh polisi semakin banyak. Termasuk mereka yang dituduh teroris. Tempat rehabilitasi dan tahanan seperti penjara, justeru menjadi pusat peredaran narkoba. Dari dulu sampai sekerang. Kementerian Tenaga Kerja, setiap hari hanya menerima laporan kasus-kasus pemerkosaan tkw yang terlantar di luar negeri. Masih banyak lagi kasus lainnya. Tetapi, melihat semua itu pejabat tidak ada rasa  malunya.

Malu sama dengan “haya” yang berasal dari kata “hayatun” yang berarti  kehidupan. Ibnu Qayyim, mengatakan, “Orang yang sudah tidak memiliki rasa malu, berarti orang itu sudah mati”. Perbuatan dosa dan maksiat itu, menghilangan rasa malu. Bukan hanya menghilangkan rasa malunya kepada sesama manusia,  tetapi juga rasa malunya terhadap Allah Azza Wa Jalla.

Di seluruh Indonesia, jutaan orang keluar rumah sejak sebelum Ashar, hingga dini hiri, tanpa melaksanakan shalat, menyambut tahun baru Masehi. Masjid kosong melompong.  Shalat Subuh jamaahnya tinggal beberapa gelintir. Menyambut tahun baru Masehi, berbanding lurus dengan melakukan kemaksiatan terhadap Allah Rabbu Alamin secara  kolektif.

Seorang Ketua MUI Jawa Timur, mengatakan, bahwa di Pantai Kenjeran, Surabaya, berserakan “kondom”, usai perayaan Tahun Baru. Entah di Jakarta.

Bangsa Indonesia, para pemimpinnya dari atas sampai bawah, sudah kehilangan rasa malu. Tidak malu berbuat salah dan dosa terhadap manusia dan Allah Rabbul Alamin. Rakyatnya ikut pula terjerumus ke dalam kehidupan materialisme yang memperbudak mereka. Semuanya membuat hilangnya rasa malu.

Manusia yang sudah tidak mempunyai rasa malu akan menjadi sampah kehidupan. Tidak ada gunanya. Mereka akan berbuat apa saja, sesuai dengan kemauannya, yang didorong naluri syahwatnya. Wallahu’alam.(eramuslim)

By abu burhan Posted in Berita